Memang pada zaman kini, banyak orang yang pandai mengatakan barang yang berlainan dari pada yang teringat di hatinya, pandai mengambil muka. Pintar berperangai pepat di luar, pancung di dalam. Seorang buruh bekerja dengan rajin bukan lantaran pekerjaan itu adalah tugas dan kewajibannya, melainkan karena ingin dipuji oleh majikan. Di belakang majikan dia berbuat lain.
Seorang pemimpin rakyat berpura-pura bergaul dekat dengan rakyat demi mencari popularitas. Bahkan orang-orang yang dianggap sebagai pemimpin agama atau ulama pun tidak lepas dari penyakit riya itu, dengan pura-pura bekerja demi kepentingan umat dan sebagainya padahal tujuannya ialah untuk mencari pengaruh dan ingin dipuji oleh para pengikutnya.
Lantaran itu hubungan seorang atasan dengan bawahan hanya hubungan komedi saja, manis di mulut, padahal hatinya menuju kepada yang lain.
Riya pun tampak sekali pengaruhnya dalam persahabatan. Di muka membantu dan menolong, tetapi di belakang menghina dan mencemoohkan. Apabila ditanyakan kepadanya, adakah kesalahan yang patut ditegurnya, dijawabnya tidak ada, pekerjaan kita baik semuanya, tidak ada salah dan cacatnya. Sementara itu, kepada kita dia suka sekali membicarakan kesalahan orang lain.
Kita harus berhati-hati terhadap orang yang tidak mau berbicara terus terang tentang kesalahan orang secara berhadap-hadapan, tetapi suka membicarakan kesalahan orang lain di belakangnya. Orang yang seperti itu tidak bisa dijadikan kawan karena sewaktu-waktu dia bisa mengkhianati kita.
Oleh karena itu, penyakit riya dekat sekali dengan munafik yang tanda-tandanya dikatakan oleh Rasulullah saw, "Jika berbicara dia berdusta, jika berjanji dia mungkir, dan apabila dipercaya dia khianat." Akibatnya, mencari sahabat yang setia sama sulitnya dengan mencari seekor gagak berbulu putih. Tiap perkataan dihiasnya dengan dusta, tiap janji dipungkirinya, tiap dipercaya dia belot. Itulah penyakit yang menimpa masyarakat kita sekarang.
Pada zaman modern ini demi untuk berkhidmat kepada masyarakat, banyak orang aktif mendirikan organisasi-organisasi sosial, agama, maupun politik. Berdirinya suatu organisasi untuk tujuan baik, tentu sangat besar manfaatnya karena usaha besar tidak mungkin lagi dikerjakan seorang diri. Akan tetapi, hendaklah diingat salah satu penyakit dalam berorganisasi ialah timbulnya perselisihan yang kadang-kadang bisa menimbulkan permusuhan yang berlarut-larut, akibat adanya perbedaan pendapat atau perbedaan kepentingan di antara para pengurusnya. Apabila ditanyakan pada si A, apa yang menyebabkan terjadinya perpecahan, dia menuduh si B-lah yang salah, sebaliknya apabila ditanyakan pada si B, si A-lah yang salah.
Sebab utama timbulnya perselisihan dalam suatu organisasi kemasyarakatan, agama, apalagi organisasi politik, tidak lain ialah karena riya. Orang aktif berorganisasi tidak lagi untuk kepentingan umat atau karena Allah SWT, tetapi untuk motif-motif lain, mencari kedudukan dan popularitas.
Tanyakanlah pada orang-orang yang aktif atau para pemimpin organisasi politik, agama, sosial, dan sebagainya. Apa tujuannya mengurus organisasi itu. Niscaya semuanya akan menjawab, demi untuk mengabdi pada masyarakat.
Jika memang demikian seharusnya di antara para pemimpin itu tidak mungkin terjadi perbedaan yang menyebabkan permusuhan dan perpecahan. Perpecahan dalam tubuh suatu organisasi adalah bukti adanya perebutan kedudukan dan ambisi mengejar pangkat dan popularitas dari para pemimpinnya.
Cobalah meminta sumbangan pada orang-orang kaya, biasanya dia mau memberi jika sekiranya namanya akan tertulis dengan jelas, apalagi kalau disiarkan di surat kabar bahwa dia banyak menyumbang. Namun, jika sumbangannya sedikit, tak usah dikatakan kepada siapa-siapa bahwa dia menyumbang sedikit. Dalam hal ini pernah kejadian pada suatu organisasi yang menyiarkan nama-nama orang yang memberi sumbangan. Disiarkan bahwa si Fulan menyumbang Rp10.000, si Fulan Rp50.000, si Fulan lagi Rp5.000, dan si Fulan satu lagi hanya Rp500. Si penyumbang yang lima ratus rupiah itupun protes karena merasa dihina di muka umum.
Padahal ketika orang datang ke rumahnya meminta belas kasihan, meminta sumbangan, dia hanya memberikan sebanyak itu dengan berkata bahwa uang yang begitu sudah lebih dari cukup.
Dia merasa terhina karena disiarkan di surat kabar, tetapi dia lupa bahwa dia telah lebih dahulu menghinakan derajat petugas yang meminta sumbangan dan menghina pekerjaan baik yang orang kerjakan. Padahal uang yang lima ratus rupiah itu tidak sepadan dengan kekayaannya bahkan ia sanggup menyumbang beratus ribu rupiah.
Apakah sebabnya dia hanya menyumbang lima ratus rupiah saja? Karena dia tak diberi tahu tadinya, akan disiarkan kepada umum. Dilihat dari segi agama, sangat besar bahaya riya bagi diri manusia, kebesaran bahaya itu lantaran dia akan masuk neraka atau terhindar dari surga.
Namun, bahaya itu juga besar bagi dirinya dalam hidup di dunia karena hatinya tidak tetap, hanya menurutkan gelombang umpat dan puji manusia belaka. Di dalam dia beramal riya, orang lain pun riya pula padanya sehingga di tidak tahu hakikat yang sebenarnya atau kejadian di sekelilingnya.
Riya timbul karena munafik, sebagaimana telah disebut oleh Allah SWT,
اِنَّ الْمُنٰفِقِيْنَ يُخٰدِعُوْنَ اللّٰهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْۚ وَاِذَا قَامُوْآ اِلَى الصَّلٰوةِ قَامُوْا كُسَالٰىۙ يُرَاۤءُوْنَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ اِلَّا قَلِيْلًاۖ
"Sesungguhnya orang munafik itu hendak menipu Allah, tetapi Allah-lah yang menipu mereka. Apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka lakukan dengan malas. Mereka bermaksud riya' (ingin dipuji) di hadapan manusia. Dan mereka tidak mengingat Allah kecuali sedikit sekali." (an-Nisaa':142)
Mereka bermaksud menipu Allah SWT, maka Allah SWT membalas tipu itu, tetapi mereka tidak sadar. Mereka enggan mengerjakan shalat sebab hatinya tidak dekat pada Allah SWT, Sang Pencipta, tetapi jika sekiranya dengan shalat itu dia akan dapat pujian, agaknya dia mau mengerjakan yang empat rakaat menjadi delapan rakaat, tetapi sayang tidak boleh ditambah.
Dibuatnya kebaikan, didirikan sekolah-sekolah, dan ditolongnya orang miskin yang sengsara, kemudian disebut-sebutnya di mana-mana duduk. Apabila dia merasa kurang penghargaan atau tidak ada orang yang memujinya, dikatakannya orang tak tahu membalas jasa dan tak pandai menghargai orang.
Petikan di atas ini diambil daripada buku Akhlaqul Karimah oleh Hamka, M/S: 210 - 215.